Nama:
Denny
NIM: 16713145
Fakultas: FTI
NIM: 16713145
Fakultas: FTI
Pada hari Sabtu, 24
Agustus 2013, kegiatan OSKM berlangsung sebagai hari terakhir. Kegiatan OSKM
tersebut diisi oleh banyak materi sebagai bekal kuliah. Penyampaian materi
tersebut bisa dibagi menjadi 7 sesi.
·
Sesi 1: Visi
hidup
Sesi pertama ini
dibuka dengan mentoring agama. Di dalam mentoring agama ini, kami diajarkan
materi mengenai visi hidup. Ternyata, visi hidup itu sangat penting dan visi
hidup yang kita miliki harus memenuhi kriteria SMART (Specific, Measureable,
Action-oriented, Realistic, Time Bound). Selain itu, visi hidup kita juga harus
memenuhi 2 persyaratan, yaitu harus berketuhanan dan mengutamakan kebebasan
substansial. Maksudnya adalah kita harus menetapkan visi yang mengedepankan
asas rohani dan berpusat pada Tuhan karena kita berasal dari Tuhan dan akan
kembali ke Tuhan. Kemudian, maksud dari kebebasan substansial adalah visi
dengan kebebasan yang bertanggungjawab dan tidak merugikan orang lain.
·
Sesi 2:
Kolaborasi
Kolaborasi
dalam penyelesaian suatu masalah adalah hal yang sangat penting. Oleh karena
itu, mahasiswa ITB hendaknya dapat melakukan kolaborasi dengan seluruh
masyarakat kampus agar dapat menghasilkan suatu karya yang besar. Di dalam
kolaborasi, terdapat dua pendekatan yang harus dilakukan untuk melakukan
kolaborasi, yaitu:
·
Pendekatan secara personal:
o
Win-win Solution: Pendekatan di mana dalam
berkolaborasi tidak ada yang kalah. Kolaborasi ini akan menghasilkan ide baru
yang merupakan gabungan ide dari kedua belah pihak. Pendekatan ini akan sangat
sulit untuk dilakukan.
o
Win-loss Solution: Pendekatan di mana dalam
berkolaborasi terdapat satu pihak yang menang dan pihak lain kalah. Contohnya
adalah ketika kita mengikuti SNMPTN atau SBMPTN untuk masuk ke ITB. Di dalam
seleksi masuk tersebut pasti akan ada yang berhasil masuk dan ada yang gagal.
o
Loss-loss Solution: Pendekatan di mana ide kedua
belah pihak tidak ada yang menang sehingga memerlukan pihak ketiga dalam
penyelesaiannya. Misalnya kasus Julia Perez dan Dewi Perssik yang mengakibatkan
keduanya tidak ada yang menang dan keduanya masuk ke penjara.
·
Pendekatan secara organisasi:
o
Bargaining Approach: Pendekatan di mana kedua
organisasi harus tawar-menawar kepentingan masing-masing karena sumber daya
yang terbatas.
o
Birocratic Approach: Pendekatan di mana antara
kedua organisasi tidak dapat menyelesaikan masalahnya sehingga memerlukan pihak
atas untuk menyelesaikan masalah tersebut.
o
System Approach: Pendekatan yang terjadi apabila
permasalahan tidak dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak dan pihak atas
tidak dipercaya untuk menyelesaikan masalahnya lagi sehingga dibutuhkan dua
langkah, yaitu:
§
Mengeliminasi tujuan yang berbeda dengan tujuan
utamanya.
§
Mengurangi saling ketergantungan (memecah tujuan
yang sama antara dua lembaga sehingga kedua lembaga tidak mengalami bentrok
kepentingan).
Di dalam
kolaborasi juga biasanya terdapat hambatan, yaitu:
·
Keahlian
·
Waktu
·
Biaya
·
Kompetisi
·
Sesi 3:
Cinta Tanah Air
Seorang
mahasiswa ITB harus dapat mencintai tanah air. Ada empat hal penting yang
diperlukan untuk mencintai tanah air, yaitu:
·
Identitas Bangsa, seperti lagu kebangsaan,
bendera Negara, dan lain sebagainya.
·
Wujud Cinta tanah air, seperti pengabdian kepada
masyarakat.
·
Realitas bangsa: menghargai dan tetap mencinta
bangsa walaupun bangsa kita memiliki banyak kekurangan dan tidak
menjelek-jelekannya, tetapi disadari untuk melakukan perubahan.
·
Punya visi kebangsaan: memiliki rasa
nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.
·
Sesi 4:
PoPoPe (Posisi, Potensi, dan Peran Mahasiswa)
Mahasiswa ITB
harus mengetahui posisi, potensi, dan perannya dalam mengembangkan diri dan
mengabdi kepada masyarakat. Posisi, potensi, dan peran tersebut antara lain
adalah sebagai berikut:
·
Posisi:
Posisi masyarakat dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
·
Masyarakat ekonomi (materialistik)
·
Masyarakat politik (berambisi meraih jabatan)
·
Masyarakat sipil (berambisi untuk tujuan mulia)
Di dalam ketiga posisi tersebut, mahasiswa memiliki posisi sebagai
masyarakat sipil terpelajar karena mahasiswa cenderung banyak melakukan
pergerakan yang didasarkan atas ilmu yang dipelajarinya untuk tujuan pengabdian
kepada masyarakat.
·
Potensi:
Ada beberapa potensi yang dimiliki
oleh seorang mahasiswa, antara lain: idealis, independen, networking, kritis,
kreatif, multidisiplin ilmu, dan enerjik atau semangat.
·
Peran:
Mahasiswa memiliki peranan sebagai
berikut:
·
Agent of change: agen perubahan di dalam
masyarakat menuju masayarakat yang lebih baik lagi.
·
Guardian of value: sebagai pelindung nilai-nilai
yang ada dan hidup di dalam masyarakat.
·
Iron Stock: sebagai “cadangan besi” yang dapat
menggantikan para pemimpin-pemimpin yang sekarang sudah tua atau “berkarat”.
·
Role model: sebagai model yang memiliki peranan.
·
Sesi 5:
Tri Dharma Perguruan Tinggi
Sebagai suatu
institusi pendidikan, perguruan tinggi hendaknya memiliki visi misi, tidak
terkecuali ITB sebagai kampus terbaik bangsa. Visi misi tersebut terangkum
dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi:
·
Pendidikan dan pengajaran: merupakan bekal dasar
yang harus diberikan kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri dan mengabdikan
kepada masyarakat.
·
Penelitian dan pengembangan: Ilmu-ilmu yang
telah diperoleh mahasiswa harus diteliti dan dikembangkan agar ilmunya semakin
bertambah.
·
Pengabdian masyarakat: setelah bekal ilmu
diperoleh dan dikembangkan, ilmu-ilmu tersesebut harus diterapkan dan diamalkan
dalam kehidupan masyarakat untuk mengabdi dan menyelesaikan setiap permasalahan
yang ada.
·
Sesi 6:
Budaya Kampus ITB
Budaya kampus
ITB adalah segala sesuatu yang menjadi tradisi dalam kampus tersebut. Budaya
kampus ITB antara lain: peduli lingkungan, integritas akademik, diskusi,
apresiasi, wawasan kebangsaan, inovasi, kewirausahaan, dekat dengan masyarakat,
dekat dengan alam, mau menjadi pemimpin, dan kebudayaan menulis.
·
Sesi 7:
Urgensi Kemahasiswaan
Di tengah
kehidupan yang sedang kacau ini, mahasiswa sebagai penggerak utama memiliki
urgensi kemahasiswaan. Urgensi kemahasiswaan tersebut harus benar-benar dengan
segera dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di tengah-tengah
masyarakat. Di dalam urgensi kemahasiswaan tersebut, mahasiswa harus banyak
terlibat dalam organisasi untuk mengembangkan diri dan kemudian mengabdikan
diri kepada masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa harus terlebih dahulu
mengenal falsafah organisasi kemahasiswaan. Falsafah organisasi kemahasiswaan
adalah menjadi manusia susila dan demokrat. Kemudian, setelah itu, mahasiswa
juga mengikuti berbagai organisasi yang ada tanpa melupakan kewajiban utamanya
yaitu belajar. Setelah mahasiswa mengikuti organisasi, kegiatan, dan belajar,
maka diri mahasiswa akan berkembang dan kemudian dapat mengabdikan diri kepada
masyarakat untuk satu tujuan, yaitu: menciptakan tatanan masyarakat yang lebih
baik.
Di dalam ITB,
terdapat banyak organisasi yang dapat diikuti oleh mahasiswa, sperti KM-ITB,
unit-unit, dan lain sebagainya. Di dalam KM-ITB sendiri dapat terbagi menjadi
beberapa bagian seperti Konggres, Kabinet, MWAWM (Majelis Wali Amanat Wakil
Mahasiswa), MWA, Tim beasiswa dan lain sebagainya.
Di dalam
pengabdiannya kepada masyarakat, mahasiswa dapat melakukan pergerakan.
Pergerakan tersebut dibagi menjadi dua yaitu pergerakan vertical (pergerakan
dengan berhubungan ke pihak atas) dan pergerakan horizontal (pergerakan dengan
berhubungan langsung kepada masyarakat).
Begitulah
hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang mahasiswa ITB dalam menjalani
kuliah. Apapun yang kita lakukan, lakukanlah demi perubahan dalam masyarakat!
Untuk Indonesia!
No comments:
Post a Comment