Sunday, August 25, 2013

Resume Materi OSKM 2013 (by Denny 16713145)



Nama: Denny
NIM: 16713145
Fakultas: FTI
Pada hari Sabtu, 24 Agustus 2013, kegiatan OSKM berlangsung sebagai hari terakhir. Kegiatan OSKM tersebut diisi oleh banyak materi sebagai bekal kuliah. Penyampaian materi tersebut bisa dibagi menjadi 7 sesi.
·         Sesi 1: Visi hidup
Sesi pertama ini dibuka dengan mentoring agama. Di dalam mentoring agama ini, kami diajarkan materi mengenai visi hidup. Ternyata, visi hidup itu sangat penting dan visi hidup yang kita miliki harus memenuhi kriteria SMART (Specific, Measureable, Action-oriented, Realistic, Time Bound). Selain itu, visi hidup kita juga harus memenuhi 2 persyaratan, yaitu harus berketuhanan dan mengutamakan kebebasan substansial. Maksudnya adalah kita harus menetapkan visi yang mengedepankan asas rohani dan berpusat pada Tuhan karena kita berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Kemudian, maksud dari kebebasan substansial adalah visi dengan kebebasan yang bertanggungjawab dan tidak merugikan orang lain.
·         Sesi 2: Kolaborasi
Kolaborasi dalam penyelesaian suatu masalah adalah hal yang sangat penting. Oleh karena itu, mahasiswa ITB hendaknya dapat melakukan kolaborasi dengan seluruh masyarakat kampus agar dapat menghasilkan suatu karya yang besar. Di dalam kolaborasi, terdapat dua pendekatan yang harus dilakukan untuk melakukan kolaborasi, yaitu:
·         Pendekatan secara personal:
o   Win-win Solution: Pendekatan di mana dalam berkolaborasi tidak ada yang kalah. Kolaborasi ini akan menghasilkan ide baru yang merupakan gabungan ide dari kedua belah pihak. Pendekatan ini akan sangat sulit untuk dilakukan.
o   Win-loss Solution: Pendekatan di mana dalam berkolaborasi terdapat satu pihak yang menang dan pihak lain kalah. Contohnya adalah ketika kita mengikuti SNMPTN atau SBMPTN untuk masuk ke ITB. Di dalam seleksi masuk tersebut pasti akan ada yang berhasil masuk dan ada yang gagal.
o   Loss-loss Solution: Pendekatan di mana ide kedua belah pihak tidak ada yang menang sehingga memerlukan pihak ketiga dalam penyelesaiannya. Misalnya kasus Julia Perez dan Dewi Perssik yang mengakibatkan keduanya tidak ada yang menang dan keduanya masuk ke penjara.
·         Pendekatan secara organisasi:
o   Bargaining Approach: Pendekatan di mana kedua organisasi harus tawar-menawar kepentingan masing-masing karena sumber daya yang terbatas.
o   Birocratic Approach: Pendekatan di mana antara kedua organisasi tidak dapat menyelesaikan masalahnya sehingga memerlukan pihak atas untuk menyelesaikan masalah tersebut.
o   System Approach: Pendekatan yang terjadi apabila permasalahan tidak dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak dan pihak atas tidak dipercaya untuk menyelesaikan masalahnya lagi sehingga dibutuhkan dua langkah, yaitu:
§  Mengeliminasi tujuan yang berbeda dengan tujuan utamanya.
§  Mengurangi saling ketergantungan (memecah tujuan yang sama antara dua lembaga sehingga kedua lembaga tidak mengalami bentrok kepentingan).
Di dalam kolaborasi juga biasanya terdapat hambatan, yaitu:
·         Keahlian
·         Waktu
·         Biaya
·         Kompetisi

·         Sesi 3: Cinta Tanah Air
Seorang mahasiswa ITB harus dapat mencintai tanah air. Ada empat hal penting yang diperlukan untuk mencintai tanah air, yaitu:
·         Identitas Bangsa, seperti lagu kebangsaan, bendera Negara, dan lain sebagainya.
·         Wujud Cinta tanah air, seperti pengabdian kepada masyarakat.
·         Realitas bangsa: menghargai dan tetap mencinta bangsa walaupun bangsa kita memiliki banyak kekurangan dan tidak menjelek-jelekannya, tetapi disadari untuk melakukan perubahan.
·         Punya visi kebangsaan: memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

·         Sesi 4: PoPoPe (Posisi, Potensi, dan Peran Mahasiswa)
Mahasiswa ITB harus mengetahui posisi, potensi, dan perannya dalam mengembangkan diri dan mengabdi kepada masyarakat. Posisi, potensi, dan peran tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
·         Posisi:
Posisi masyarakat dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
·         Masyarakat ekonomi (materialistik)
·         Masyarakat politik (berambisi meraih jabatan)
·         Masyarakat sipil (berambisi untuk tujuan mulia)
Di dalam ketiga posisi tersebut, mahasiswa memiliki posisi sebagai masyarakat sipil terpelajar karena mahasiswa cenderung banyak melakukan pergerakan yang didasarkan atas ilmu yang dipelajarinya untuk tujuan pengabdian kepada masyarakat.
·         Potensi:
Ada beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, antara lain: idealis, independen, networking, kritis, kreatif, multidisiplin ilmu, dan enerjik atau semangat.
·         Peran:
Mahasiswa memiliki peranan sebagai berikut:
·         Agent of change: agen perubahan di dalam masyarakat menuju masayarakat yang lebih baik lagi.
·         Guardian of value: sebagai pelindung nilai-nilai yang ada dan hidup di dalam masyarakat.
·         Iron Stock: sebagai “cadangan besi” yang dapat menggantikan para pemimpin-pemimpin yang sekarang sudah tua atau “berkarat”.
·         Role model: sebagai model yang memiliki peranan.
·         Sesi 5: Tri Dharma Perguruan Tinggi
Sebagai suatu institusi pendidikan, perguruan tinggi hendaknya memiliki visi misi, tidak terkecuali ITB sebagai kampus terbaik bangsa. Visi misi tersebut terangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi:
·         Pendidikan dan pengajaran: merupakan bekal dasar yang harus diberikan kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri dan mengabdikan kepada masyarakat.
·         Penelitian dan pengembangan: Ilmu-ilmu yang telah diperoleh mahasiswa harus diteliti dan dikembangkan agar ilmunya semakin bertambah.
·         Pengabdian masyarakat: setelah bekal ilmu diperoleh dan dikembangkan, ilmu-ilmu tersesebut harus diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan masyarakat untuk mengabdi dan menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.

·         Sesi 6: Budaya Kampus ITB
Budaya kampus ITB adalah segala sesuatu yang menjadi tradisi dalam kampus tersebut. Budaya kampus ITB antara lain: peduli lingkungan, integritas akademik, diskusi, apresiasi, wawasan kebangsaan, inovasi, kewirausahaan, dekat dengan masyarakat, dekat dengan alam, mau menjadi pemimpin, dan kebudayaan menulis.

·         Sesi 7: Urgensi Kemahasiswaan
Di tengah kehidupan yang sedang kacau ini, mahasiswa sebagai penggerak utama memiliki urgensi kemahasiswaan. Urgensi kemahasiswaan tersebut harus benar-benar dengan segera dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Di dalam urgensi kemahasiswaan tersebut, mahasiswa harus banyak terlibat dalam organisasi untuk mengembangkan diri dan kemudian mengabdikan diri kepada masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa harus terlebih dahulu mengenal falsafah organisasi kemahasiswaan. Falsafah organisasi kemahasiswaan adalah menjadi manusia susila dan demokrat. Kemudian, setelah itu, mahasiswa juga mengikuti berbagai organisasi yang ada tanpa melupakan kewajiban utamanya yaitu belajar. Setelah mahasiswa mengikuti organisasi, kegiatan, dan belajar, maka diri mahasiswa akan berkembang dan kemudian dapat mengabdikan diri kepada masyarakat untuk satu tujuan, yaitu: menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik.
Di dalam ITB, terdapat banyak organisasi yang dapat diikuti oleh mahasiswa, sperti KM-ITB, unit-unit, dan lain sebagainya. Di dalam KM-ITB sendiri dapat terbagi menjadi beberapa bagian seperti Konggres, Kabinet, MWAWM (Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa), MWA, Tim beasiswa dan lain sebagainya.
Di dalam pengabdiannya kepada masyarakat, mahasiswa dapat melakukan pergerakan. Pergerakan tersebut dibagi menjadi dua yaitu pergerakan vertical (pergerakan dengan berhubungan ke pihak atas) dan pergerakan horizontal (pergerakan dengan berhubungan langsung kepada masyarakat).
Begitulah hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang mahasiswa ITB dalam menjalani kuliah. Apapun yang kita lakukan, lakukanlah demi perubahan dalam masyarakat! Untuk Indonesia!

No comments:

Post a Comment