1. Hakikat dan Visi Hidup Berdasarkan
Ke-Tuhanan
Hakikat
hidup merupakan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Sedangkan visi
merupakan suatu pandangan ke depan tentang apa yang mau kita capai. Visi
haruslah bersifat spesifik, dapat terukur, dapat tercapai, realistis, dan
memiliki tenggat waktu. Tidak hanya itu, ada suatu dasar yang tidak boleh
dilupakan dalam memiliki visi, yaitu visi kita haruslah berdasarkan asas
ke-Tuhanan. Yakni, apa pun yang kita lakukan semua dipersembahkan kepada Tuhan.
Mengapa? Karena kita merupakan makhluk ciptaan Tuhan dan suatu saat akan
kembali untuk menghadap-Nya.
Kebebasan
substansial merupakan kebebasan yang memiliki tanggung jawab, tidak mengganggu hak orang lain, dan tidak
melanggar kearifan lokal.
2. Kolaborasi
Kolaborasi
merupakan kerja sama untuk mencapai tujuan
bersama. Hal ini diakibatkan karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk
sosial yang saling membutuhkan untuk melengkapi satu sama lain. Meskipun
demikian, dalam kolaborasi tidak semua hal akan berjalan mulus sebagaimana
dengan mestinya. Pada suatu titik, maka kan
timbul beragam konflik dalam melaksanakannya. Untuk melesaikan masalah dalam
kolaborasi (manajemen konflik) ada beberapa cara, antara lain:
a.
Secara personal :
i.
win-win : merupakan pendekatan dengan hasil yang
paling baik namun sulit dicapai karena kedua pihak menang dan mendapatkan apa
yang diinginkan
ii.
Win-lose : Merupakan pendekatan yang sering
terjadi pada kompetisi dimana salah satu kalah, dan satunya lagi akan menang.
Hal ini dikarenakan kekuatan lebih besar yang dimiliki oleh pihak yang menang
iii.
Lose-lose : Pendekatan dimana ada pihak ketiga
yang membantu menyelesaikan masalah dan akhirnya kedua belah pihak mengalami
kerugian.
b.
Dalam organisasi :
i.
Bargaining approach : tawar menawar terhadap
keadaan, dengan catatan bahwa terdapat sumber daya yang terbatas. Karenanya, kedua
pihak alam menghilangkan hal yang tidak penting agar tercapai kesepakatan.
ii.
Birocrativ approach : Bila tidak tercapai
kesepakatan, keputusan dikembalikan pada pemangku jabatan (birokrat)
iii.
System approach : Hal ini dilakukan bila
birokrat tidak lagi dipercaya, sehingga harus menghilangkan saling
ketergantungan
Semua konflik tadi dikarenakan ada
hambatan berupa perbedaan pendapat, waktu, dan biaya.
3. Cinta Tanah Air
1.
Identitas bangsa : Untuk mencintai, harus
mengenal dahulu identitas bangsa
Indonesia (Negara maritim, bendera merah-putih, dan sebagainya yang erhubungan
dengan ciri khas bangsa)
2.
Wujud cinta : Dapat berwujud nyata seperti pengabdian kepada masyarakat
ataupun tidak langsung.
3.
Realitas bangsa : Mengetahui realitas bangsa tidak hanya yang
buruk, tetapi juga yang
4.
Visi Berkebangsaan : Visi yang dimiliki harus dapat memajukan bangsa kta
4. Urgensi Kemahasiswaan
Budaya
kampus merupakan segala sesuatu yang sudah menjadi tradisi dalam suatu kampus.
Di ITB terdapat 11 budaya kampus yaitu: Peduli lingkungan, integritas akademik,
diskusi, apresiasi, wawasan kebangsaan, inovasi, kewirausahaan, dekat dengan
masyarakat, dekat dengan alam, mau jadi pemimpin, dan budaya menulis.
Terdapat
tridarma perguruan tinggi yaitu:
1.
Pendidikan dan pengajaran
2.
Penelitian dan pengembangan
3.
Pengabdian masyarakat
Posisi
mahasiswa adalah sebagai masyarakat sipil yang terpelajar. Selain masyarakat
sipil, terdapat masyarakat politik dan ekonomi.
Potensi
mahasiswa adalah idealis, independen, networking (relasi), kritis, kreatif,
multidisiplin ilmu, dan memiliki daya juang yang tinggi.
Peran
mahasiswa antara lain:
1. Agent of change (Agen perubahan)
2. Guardian of value (Penjaga nilai-nilai, norma, dan
kearifan local pada masyarakat)
3. Iron Stock (Dianalogikan
sebagai stok besi. Yaitu besi dapat ditempa seperti halnya mahasiswa yang harus
menempa diri dengan belajar. Lalu, besi
dapat berkarat yang berarti bahwa mahasiswa berperan untuk menggantikan
generasi yang sudah tua)
4.
Role Model (Panutan dan contoh pada masyarakat)
Ada 2
arah gerakan kemahasiswaan:
1. Horizontal: Pengabdian masyarakat
2. Vertikal: Melawan para pemangku
jabatan
No comments:
Post a Comment