A.
UPT K3L (Keamanan, Ketertiban, Keselamatan, dan
Lingkungan)
UPT K3L
merupakan sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bertanggung jawab atas segala
hal yang berhubungan dengan keamanan, ketertiban, keselamatan, dan lingkungan
di Institut Teknologi Bandung. UPT ini berada di bawah koordinasi Wakil Rektor
Bidang Sumber Daya dan Organisasi Prof. Dr. Irawati, M.S.
Mengenai
keamanan, ada beberapa hal yang dipaparkan. Keamanan sendiri menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia berarti suatu keadaan yang bebas dari segala bahaya dan
gangguan. Karenanya, keamanan merupakan salah satu komponen penting yang
terdapat di ITB. ITB memiliki pegawai keamanan yang bertugas untuk menjaga
keamanan di seluruh wilayah kampus. Hal ini agar semua sivitas akademika dapat
melakukan segala kegiatannya dengan aman.
Kemudian
mengenai ketertiban. ITB sebagai institusi pendidikan para calon pemimpin
terbaik bangsa mempunyai peraturan yang mengatur mengenai ketertiban kampus. Terdapat
konsekuensi apabila ketertiban dilanggar. Misalnya apabila terdapat mobil yang
diparkir sembarangan, maka ban mobil akan digembok atau dikempesi oleh pihak
ketertiban. Lalu ada peraturan bahwa tidak diperkenankan untuk ribut selama
jadwal kuliah berlangsung, para pejalan kaki harus berjalan di selasar, dsb.
Keselematan
merupakan salah satu hal yang paling diutamakan di ITB. Terdapat fasilitas yang
disediakan demi keselamatan para sivitas akademika. Yaitu alat pemadam api
ringan, Assembly point, dan video mitigasi bencana sebagai sosialisasi
keselamatan diri.
Terakhir adalah
mengenai lingkungan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia harus mampu menjaga
dan melestarikan lingkungan. Untuk mencapai tujuan tersebut, ITB ini telah menyediakan tempat sampah di
berbagai tempat. Lalu para mahasiswa juga diharuskan untuk menjaga fasilitas kampus
seperti toilet, dan melindungi satwa-satwa alami di sekitar ITB.
B.
Seminar OSKM ITB 2013
Seminar OSKM ITB
2013 kali ini menghadirkan 4 narasumber yaitu Bapak Gita Wirjawan selaku
Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, WANADRI, Ibu Tri
Mumpuni, dan Riset Indie (Saska). Seminar dimoderatori oleh Putri Indonesia
2011, Maria Selena. Seminar dibuka oleh Sekretaris Jenderal OSKM ITB 2013
Benito, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Bapak Kadarsah Suryadi, dan
Presiden KM ITB Nyoman Anjani.
Gita Wirjawan mengawali
seminar dengan memberikan pidatonya. Dalam pidatonya, beliau mengatakan bahwa
Indonesia membutuhkan pemimpin yang mengerti akan kondisi masyarakatnya. Kita
sebagai pemimpin masa depan tidak boleh cepat menyerah menghadapi berbagai
tantangan. Hal ini sesuai dengan share beliau
sebagai ketua PBSI yang memotivasi para atlet bulu tangkis Indonesia dengan
kalimat “If you want it, you will get it”. Selain itu, Gita Wirjawan juga
berpesan untuk memajukan budaya bangsa kita, sebagai senjata ampuh
membangkitkan perekonomian kita dengan terus mencintai produk dalam negeri dan
menjaga kearifan lokal. Hal ini sangat berguna untuk menghadapi pasar bebas
ASEAN pada tahun 2015. Suka tidak suka kita harus siap menghadapinnya. "We
have to be nationalistic, but at the same time to be internationalist"
kata Gita Wirjawan. Pesan penutup yang Gita Wirjawan berikan adalah kita
sebagai generasi muda baru, calon pemimpin Indonesia, harus menjadi garuda yang
garuda yang kreatif, terampil, berteknologi, dan memiliki semangat kebangsaan.
Seminar
dilanjutkan oleh narasumber WANADRI yang diwakilkan Ilham Fauzi, Indra Hidayat,
dan Ihsan. WANADRI merupakan kelompok pecinta alam tertua di Indonesia. Mereka
memberikan wawasan betapa kaya negara kita. Selain itu, mereka juga berbagi
pengalaman-pengalaman inspiratif mereka dalam melakukan berbagai pendakian.
Sebagai aksi nyata menjaga keutuhan NKRI, Kelompok pecinta alam ini telah
membuat dan memasang patung Soekarno dan Hatta di beberapa gunung di
pulau-pulau terdepan Indonesia. WANADRI mewariskan nasionalisme dan semangat
juang untuk mencapai puncak kepada semua mahasiswa baru ITB 2013.
Sesi ketiga
seminar menghadirkan Ibu Tri Mumpuni, yang berhasil berjuang untuk memberikan
listrik di 60 desa terpencil di selruh Indonesia. Beliau mengangkat tema “Integritas
dan Kompetensi Alumni ITB untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Bangsa”. Pada
intinya, Ibu Tri Mumpuni berpesan agar selalu menggunakan pengetahuan (logika)
dan perasaan (empati) untuk mencapai kesejahteraan bangsa. Isu kemanusiaan
diangkat oleh Ibu Tri Mummpuni, misalnya pada faktanya 100 juta penduduk
Indonesia di 33000 desa ternyata belum merasakan listrik. Banyak hal yang masih
harus diperbaiki dan diperjuangkan, terutama sistem ekonomi yang sering salah
kaprah. Diperlukan perbaikan visi pembangunan yang menuju akses manusia serta
perubahan paradigma investasi berdasarkan asas kemanusiaan dan kesejahteraan.
Sesi seminar
terakhir dilanjutkan dengan seminar dari Saska selaku CEO Riset Indie. Riset
Indie sendiri merupakan lembaga yang melakukan berbagai penelitian di bidang
teknologi, sosial, ekonomi, dan media. Ia berbagi kisah suka duka kuliah di
ITB. Karenanya ia berpesan agar mahasiswa ITB harus dapat berkolaborasi untuk
membuat sebuah karya. Pada realitasnya bukan hanya IP yang akan dilihat, namun
apa yang dapat kita hasilkan dengan kedua tangan kita. Ia juga berbagi berbagai
proyeknya yang mengalami jatuh bangun. Diantaranya: Polaroid dan Animatronic. Ia
juga memaparkan mengenai"Angkot Day" pada tanggal 20 september 2013.
Pada hari itu akan diadakan eksperimen sosial naik angkot kelapa Dag secara tertib,
gratis, aman, nyaman, dan tanpa ngetem. Harapannya adalah ini bisa menjadi
masukan pada pemerintah kota Bandung.
No comments:
Post a Comment